Benarkah Peneliti Pertanian Hanya Sibuk Sendiri?
Sumarno (12/21/2005)

Profesi keahlian mendapatkan kritikan dari rekan kerja sejawat? Peneliti pertaniansebagian mungkin sudah menganggap hal yang biasa terhadap kritik yang sering merekadengar. Peneliti pada Badan Litbang Pertanian nampaknya belum mendapatkepercayaan yang tinggi di mata masyarakat, padahal dahulu pada waktu melamaruntuk diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil dipersyaratkan nilai IPnya minimal 2,75dan setelah mulai bekerja mereka diberi pelatihan, kursus dan tugas belajar diuniversitas yang mutunya terbaik, di dalam negeri maupun di luar negeri. Dibandingkandengan unit kerja lainnya, jumlah tenaga dengan gelar MS, MSc, Doktor dan PhD diBadan Litbang Pertanian mungkin paling banyak.

Tetapi mengapa seringkali orang di luar Badan Litbang Pertanian menganggap penelitikurang (tidak) produktif dan dinilai hanya asyik dengan penelitiannya sendiri? Penelitikadang dianggap tidak memikirkan untuk menyediakan teknologi yang dibutuhkanpetani, dan hanya memikirkan untuk mencari kum mengejar Ahli Peneliti Utama. Tentuanggapan atau kritikan tersebut tidak seluruhnya benar. Banyak peneliti cerdas yangdengan sepenuh hati menekuni profesinya sebagai peneliti, tanpa merasa iri terhadapjabatan struktural yang dianggap lebih bergengsi. Dari bukti hasil karya juga telahbanyak temuan teknologi yang dimanfaatkan oleh petani, pekebun dan peternak, tanpaperlu diketahui siapa penemunya, yang menandakan bahwa sebagian besar peneliti kitacukup rendah hati.

Contoh yang mudah dilihat misalnya hasil karya berupa varietas unggul. Walaupunnama varietasnya sudah demikian terkenal, seperti padi varietas Cisadane, Ciherangatau jagung varietas Arjuna, Bisma, atau kedelai varietas Wilis, Kerinci, namun penelitiyang membuat varietas-varietas tersebut tidak pernah dikenal oleh petani, pejabat, atauoleh masyarakat. Bahkan kadang-kadang para pejabat dan ilmuan di luar Badan LitbangPertanian masih ada yang beranggapan bahwa varietas padi di Indonesia semuanyaberasal dari IRRI Filipina, peneliti Indonesia hanya mengadaptasikan.

Bangsa kita memang sering kurang dapat menghargai hasil karya anak bangsanyasendiri. Lihat saja, hampir setiap pejabat selalu mengatakan ?semua bibit buah-buahanberasal dari Bangkok?, padahal 98% varietas unggul buah berasal dari Indonesia, hasilidentifikasi atau seleksi peneliti Indonesia sendiri. Padi varietas IR-64 yang dilepastahun 1984 memang berasal dari IRRI, dimasukkan pada tahun 1980 bersama ratusangalur lain. Galur-galur tadi masih harus diuji mutu beras dan rasa nasinya, yangakhirnya terpilih salah satu galur IR-64 yang memang benar-benar hebat, dan ditanampetani hingga sekarang.

Pada tahun 2004/2005 ini popularitas IR-64 tinggal 33% dari total luas panen,sedangkan sisanya ditanam varietas Ciherang, Way Apo Buru, Widas Sintanur,Cimalaya, Fatmawati dan lain-lain. Sebenarnya, sejak tahun 1985 sampai tahun 2004-pun banyak varietas-varietas padi buatan peneliti Litbang yang ditanam petanimendampingi IR-64, seperti Cisadane, Pelita, Cisakon, Membrano, Krueng Aceh, WayRarem, dan masih banyak lagi. Bahkan beberapa tahun ke depan nanti peneliti padi dariBadan Litbang Pertanian akan menyediakan varietas unggul tipe baru (VUTB) yanghasilnya tidak kalah dengan padi hibrida. Varietas padi hibridapun sudah banyak (enamvarietas) dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dan dilepas secara resmi oleh MenteriPertanian.

Namun kritikpun masih tidak berhenti, dan juga masih sering diucapkan. : ?Dari 150varietas padi yang dilepas Litbang sejak tahun 1970 hanya sekitar 20 varietas saja yangmasih banyak ditanam petani. Peneliti berlomba-lomba melepas varietas hanya untukmendapatkan kum?, begitu kata para pejabat. Para peneliti yang sederhana, rendah hatidan pekerjaannya kurang bergengsi ini nampaknya memang belum pernah mendapatpujian dan penghargaan. Penulis sebagai pemulia tanaman tahu persis, bahwa dimanapun di seluruh dunia ini, varietas-varietas unggul yang dilepas dan diyakini bagusoleh pemulianya, ternyata tidak menyebar dan ditanam luas oleh petani. Gejalademikian terjadi pada padi, gandum, kedelai, kacang tanah, sorgum, di seluruh dunia.

Jadi, jangan asal tuduh paneliti kalau varietas yang dihasilkan tidak banyak ditanamoleh petani. Ibaratnya, kalau saja setiap produk jenis makanan yang dikeluarkan pabrikakan disukai masyarakat, pasti pemilik pabrik akan cepat kaya raya. Buktinya, banyakproduk baru yang telah diiklankan besar-besaran, dengan dana puluhan miliar rupiah,tetapi tetap saja tidak laku. Apalagi varietas tanaman yang tidak dipromosikan intensifdan tidak disediakan dana untuk promosi.

Hal yang tidak banyak diketahui oleh umum, tetapi tetap menjadi kebanggaan di dalamhati para peneliti adalah hasil karyanya yang berupa galur harapan padi yang tidakdilepas sebagai varietas unggul di Indonesia, tetapi ada sekitar 12 galur yang dilepassebagai varietas unggul di tujuh negara tetangga (Vietnam, Burundi, Cameroon,Bangladesh, Myanmar, India dan China). Hal ini dimungkinkan lewat programpertukaran uji galur padi bersama yang dikoordinasi oleh IRRI. Indonesiapunmemperoleh manfaat dari uji galur bersama ini. Prestasi ini tentu membanggakan,sehingga tidak mengherankan kalau pejabat dan peneliti IRRI pun sangat respekterhadap peneliti Litbang Indonesia. Sayang bangsa kita sendiri masih sering belum maumenghargai hasil karya penelitinya sendiri.

Pekerjaan Penelitian
Versus Pekerjaan Pembinaan

Dari pekerjaaan penelitian dituntut untuk mendapatkan hasil karya asli dan nyata,berupa teknologi yang dapat diterapkan untuk memecahkan permasalahan di lapangan.Tetapi teknologi yang dihasilkan peneliti tentunya sangat beragam, dapat ?sangatefektif? atau hanya ?agak efektif? dalam memecahkan permasalahan. Di samping itu,petani mempunyai banyak pilihan untuk mengadopsi teknologi yang dihasilkan olehLitbang, karena berbagai alasan. Biasanya untuk mengadopsi teknologi, petanimemerlukan tambahan biaya produksi. Maka oleh hal-hal demikian itulah, tidak semuateknologi hasil Litbang akan diadopsi petani. Hasil penelitian Balitan Malang (Balitkabisekarang, atau Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian) pada tahun 1990-an di Tuban misalnya, petani dapat mengendalikan penyakit bercak daun dan karatkacang tanah dengan menggunakan semprotan fungisida tiga kali, dan produksi kacangtanah akan naik 100%, menjadi 2,3 ton/ha polong kering. Uji coba secara luas, sekitar100 ha hasilnya sangat konsisten. Tetapi petani ternyata tidak mengadopsi teknologitersebut walaupun sebenarnya menambah keuntungan, karena tidak memiliki danauntuk membeli fungisida yang harganya tidak terlalu mahal.

Tugas pembinaan dan penyuluhan, sebaliknya tidak dituntut untuk menghasilkanteknologi baru yang asli, cukup mengajarkan teknologi yang telah ada, berasal dariberbagai sumber. Tolok ukur kinerja petugas/pejabat dapat diukur dari frekuensipembinaan dan atau luas adopsi serta peningkatan produksi. Tugas yang demikiansangat bermanfaat bagi perkembangan usaha pertanian, tetapi bukan berarti selalu lebihbermanfaat dibandingkan tugas penelitian untuk menyediakan teknologi.Oleh karena itu tidak ada relevansinya mengkritik dan merendahkan segolongan profesi,dan menganggap hanya profesi golongan sendiri yang bermanfaat. Sifat merasa ?berjasasendiri? itu disebut sebagai gejala ?school boy syndrome?, yaitu perasaan bahwajurusannya sendirilah yang terhebat dan terbaik, sedang jurusan lain dinilai rendah.Faktanya, banyak peneliti senior tekun dan produktif, walaupun sudah barang tentu adasaja yang kurang tekun dan tidak produktif. Demikian juga banyak pembina danpenyuluh pertanian yang aktif, dedikatif dan produktif, tetapi ada juga yang malas,mangkir dan tidak efektif.

Perlunya Keterkaitan
Antara Penelitian ? Penyuluhan

Antara Penelitian ? Penyuluhan sebenarnya ibarat sebuah keping mata uang, dua belahsisinya tidak dapat dipisahkan. Isu perlunya keterkaitan dan keterpaduan antara programpenelitian-penyuluhan tersebut sebenarnya telah digagas dan diupayakan sejak awaltahun 1980-an. Kegiatan penelitian lapang dirancang bersama dengan penyuluh, dalambentuk penelitian di lahan petani (On farm Research), penelitian di lahan petani denganorientasi pengguna (On farm Client Orientrd Research, OFCOR), atau PenelitianPengembangan Sistem Usahatani (PPSUT). Di Negara-negara maju, penyuluhan danpenelitian sebagai tugas keahlian fungsional dan profesional umumnya diwadahi dalamsatu organisasi unit kerja yang sama, sehingga mempermudah terjadinya komunikasiantara penyuluh dan peneliti. Tugas fungsi penelitian yang berbeda dengan penyuluhanakan memberikan ruang gerak yang leluasa bagi masing-masing petugas tanpa perlu adapersaingan antara satu dengan lainnya. Di Malaysia misalnya, teknologi yang sudahmantap dan siap dianjurkan kepada petani, diuji di lapangan oleh penyuluh bersamapeneliti dalam skala luas, dengan model ?adaptasi dan pengembangan teknologi?(technology adaptation and development). Model demikian pun sudah dilakukan diIndonesia sejak tahun 1990-an, dengan nama ?Penelitian Pengembangan?, ?PenelitianSistem Usaha Pertanian?, ?Sistem Usahatani Padi Agribisnis? dan yang dilakukan sejaktahun 2000-an adalah Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T)( dan Prima Tani.

Dalam kegiatan tersebut mungkin salah satu pihak masih mendominasi pelaksanaan dilapangan, terkait dengan asal pendanaan, tetapi tidak perlu menghalangi keterpaduantugas dan fungsi kedua pihak. Sejak dari perencanaan, pembagian tugas tadi sudah harusditentukan, sehingga tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak cukup jelas.Pembentukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di setiap Propinsi padatahun 1995 tidak lain dimaksudkan untuk mewadahi keterkaitan dan keterpaduanpenelitian dan penyuluhan. Di BPTP tenaga peneliti ?dicampur? atau disatukan dengantenaga penyuluhan, Kepala BPTP pun sebagian dijabat oleh peneliti dan sebagian olehtenaga penyuluh, tanpa ada rasa iri hati. Tetapi toh masa depan komposisi penyuluh danpeneliti di BPTP masih menjadi tanda tanya, karena beluma ada ketentuannya. BPTPsebenarnya telah dijadikan model atau contoh oleh Kosorsium Lembaga PenelitianPertanian Internasional dalam desentralisasi penelitian dan model keterkaitan penelitianpenyuluhanpertanian.

Dengan cara bekerja bersama-sama antara peneliti-penyuluh yang demikian erat, akanterjadi interaksi yang saling memperkaya wawasan dan pengalaman, sehingga satupihak tidak akan ?merendahkan? yang lain. Petani toh inginnya memperoleh informasidan teknologi yang dapat meningkatkan keuntungan usahataninya, tidak memperhatikandari siapapun asalnya. Harapan petani tersebut tentunya harus menjadi dasarpenyusunan kegiatan bagi peneliti dan penyuluh. Semoga demikialah halnya.

Penulis dari Puslitbang Tanaman Pangan

Plantamor adalah situs pribadi yang didedikasikan sebagai tempat berbagi informasi yang berkaitan dengan pengenalan berbagai jenis tumbuhan mulai dari nama-namanya, tampilannya, keindahannya, tempat tumbuhnya, hingga hubungan kekerabatan mereka antara satu dengan lainnya. Selain itu, Plantamor juga menyediakan berbagai informasi tambahan yang relevan dengan dunia tumbuhan termasuk di antaranya peraturan perundangan, peta online kawasan konservasi, artikel dan peristiwa sejarah terkait tumbuhan, dan sarana virtual untuk melihat tampilan fisik berbagai jenis tumbuhan di lokasi nyata di berbagai sudut dunia.

Nama-nama ilmiah dan taksa yang tersimpan di dalam database Plantamor adalah kumpulan dari berbagai sumber, terutama USDA (US Department of Agriculture). Buku utama yang paling sering kami jadikan acuan adalah Tropica; Color Cyclopedia of Exotic Plants and Trees hasil karya Alferd Byrd Graf. Nama-nama ilmiah dan nama-nama umum dalam bahasa Inggris hampir bisa dipastikan berasal dari kedua sumber utama tersebut. Adapun nama-nama umum dalam berbagai bahasa di Asia Tenggara banyak kami ambil dari buku-buku terbitan PROSEA (Plant Resources of South-East Asia). Tentu saja, kami juga tetap selalu mencari dan menggunakan sumber-sumber pengetahuan lain, termasuk pengetahuan dan pengalaman pribadi, jika dirasa masih diperlukan untuk verifikasi dan tambahan informasi.

Terima kasih anda telah mengunjungi kami. Jika ada saran dan koreksi, silakan anda sampaikan melalui plantamor dot com dengan nama akun muslihudin. Kami akan menerimanya dengan senang hati.



Terima kasih,
Cak Mus