Sukun Cilacap yang Lebih Menguntungkan
Titiek F. Djaafar (05/12/2004)

Tanaman sukun memiliki potensi untuk dikembangkan di DIY. Dinas Pertanian DIY telah memberikan bantuan bibit sukun Cilacap ke 4 kabupaten di DIY sejak 5 tahun yang lalu. Bahkan dari Dinas Kehutanan, khususnya di Kulon Progo dikembangkan Hutan Cadangan Pangan dengan melakukan penanaman tanaman sukun pada tahun 2000-2001. Untuk tahun 2003, di 4 Kabupaten (Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul)dikembangkan oleh Dinas Pertanian DIY sebagai daerah pengembangan tanaman sukun.Selain sukun Cilacap di DIY juga banyak tumbuh sukun lokal.

Buah sukun lokal yang dipanen di DIY rata-rata memiliki berat sebesar 1-1,5 kg/buah dan jumlah buah dalam satu kali pemanenan lebih kurang 50 buah/pohon. Buah sukun lokal ini biasanya langsung dijual ke pasar terdekat dengan harga Rp. 1.000 - Rp. 1.500/buah tergantung ukuran buah. Dengan demikian ada tambahan pendapatan sebesar Rp. 50.000 - Rp. 75.000,- setiap kali panen. Sedangkan untuk sukun Cilacap, berat buah rata-rata saat panen adalah 3-4 kg/buah dan jumlah buah dalam satu kali panen sebanyak lebih kurang 60 buah/pohon. Sama halnya dengan sukun lokal, sukun Cilacap hasil panen petani biasanya dijual ke pasar lokal (pasar desa) dengan harga Rp. 3.000/buah dengandemikian ada tambahan pendapatan sebesar lebih kurang Rp. 180.000 setiap kalipanen.

Hasil panen buah sukun di Yogyakarta tidak ada yang dijual ke industri pengolahan.Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian, dari 34 kelompok industri rumahtangga di seluruh wilayah DIY tidak ada yang menghasilkan produk makanan denganbahan dasar sukun. Hal tersebut didukung juga dengan data pemantauan di 14 toko yangmenjual camilan (pusat oleh-oleh), criping sukun yang mereka jual terrnyata berasal dariKlaten, Jawa Tengah. Bagi masyarakat Yogyakarta, biasanya sukun dikonsumsi dengancara digoreng atau direbus, tidak ada cara-cara pengolahan lain.

Budidaya sukun di keempat kabupaten di Daerah istimewa Yogyakarta tersebut tidakdilakukan secara intensif, karena hanya merupakan tanaman sampingan dan petani yangmenanam sukun tidak melakukan pemupukan, penyiraman ataupun pengendalian hamadan penyakit. Menurut informasi pada beberapa kendala yang dihadapi dalam budidayasukun yaitu adanya hama penggerek batang dan rontok buah terutama buah muda.Kendala tersebut hingga saat ini tidak pernah diatasi karena petani tidak mengetahuicara-cara pemberantasan hama tersebut. Selain kendala tersebut, khususnya di KabupatenGunung Kidul, pada musim kemarau maka tanaman akan kekurangan air dan daun sukunbiasanya digunakan untuk pakan tenak (kambing dan sapi) sehingga tanaman tidak dapattumbuh dengan baik dan menghasilkan buah.

Tetapi di daerah-daerah tertentu seperti di Sleman, tanaman sukun sudah mulaidibudidayakan dengan baik, hal ini terlihat pada saat tanaman mulai berbuah biasanyapetani melakukan pembrongsongan buah dengan alasan agar buah tidak diserang hamadan memudahkan pemanenan. Pemanenan sukun biasanya dalam setahun dua kali yaitupada bulan Pebruari dan bulan Desember.

Penyebaran tanaman sukun di DIY, terdapat di seluruh kabupaten yaitu di Sleman denganjumlah pohon sebesar 16.666 pohon dan produktivitas sebesar 79,60 kg/pohon. Kabupaten Gunung Kidul memiliki populasi tanaman yang cukup tinggi 135.821 pohon dengan jumlah pohon yang menghasilkan sebesar 3.111 pohon dan produktivitas sebesar 127,63 kg/pohon. Sedangkan Kabupaten Kulon Progo memiliki populasi pohon sebanyak 63.657 dengan jumlah tanaman menghasilkan sebanyak 15.057 pohon dan produktivitas sebesar 82,29 kg/pohon.

Penulis dari BPTP Yogyakarta

Plantamor adalah tempat berbagi informasi yang berkaitan dengan pengenalan berbagai jenis tumbuhan, mulai dari namanya, tampilannya, keindahannya, tempat tumbuhnya, hingga hubungan kekerabatan mereka antara satu dengan lainnya. Selain itu, Plantamor juga menyediakan berbagai informasi tambahan yang relevan dengan dunia tumbuhan termasuk menyediakan sarana untuk melihat secara virtual tampilan mereka di lokasi nyata tempat tumbuhnya.

Nama-nama ilmiah dan taksa yang tersimpan di dalam catatan Plantamor adalah kumpulan dari berbagai sumber, terutama USDA. Buku utama yang paling sering kami jadikan acuan adalah Tropica; Color Cyclopedia of Exotic Plants and Trees hasil karya Alferd Byrd Graf. Nama-nama ilmiah dan umum dalam bahasa Inggris hampir bisa dipastikan berasal dari kedua sumber utama tersebut. Adapun nama-nama umum dalam berbagai bahasa di Asia Tenggara banyak kami ambil dari buku-buku terbitan PROSEA, Plant Resources of South-East Asia merupakan salah satunya. Tentu saja, kami juga tetap selalu mencari sumber lain jika masih diperlukan untuk verifikasi.

Terima kasih anda telah mengunjungi kami. Jika ada saran dan koreksi, silakan anda sampaikan melalui plantamor dot com dengan nama akun muslihudin. Kami akan menerimanya dengan senang hati.



Terima kasih,
Cak Mus