Ubi Alabio Sumber Pangan Baru dari Lahan Rawa
Arifin Fahmi dan S.S. Antarlina (01/24/2007)

Ubi Alabio merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dijadikan bahan panganalternatif untuk mengurangi konsumsi beras terus meningkat. Di samping sebagai bahanpokok ubi alabio juga berpotensi dijadikan sebagai bahan industri kecil (rumah tangga)hingga industri besar.

Nama ubi alabio mungkin hanya dikenal di Kalimantan Selatan. Masyarakat awam lebihmengenalnya dengan sebutan ubi kelapa ( Dioscorea alata L). Tanaman rawa berbentukperdu merambat dengan panjang mencapai 3-10 m. Umbinya bulat, panjang dan adayang bercabang atau menjari. Daging umbi berwarna merah/ungu atau putih. Jikadirebus umbi yang berwarna merah mengeluarkan aroma harum, sedang yang putihtidak.

Masyarakat biasanya mengkonsumsi ubi alabio cukup dengn digoreng, direbus/dikukus,atau diolah menjadi ?lempeng? (makanan sejenis pizza), perkedel, kolak, dan sebagaicampuran dalam sayur. Sebagai bahan pangan komposisinya cukup baik, yaitu selainsebagai sumber karbohidrat juga mengandung PATI, protein, serat dan gula.

Komponen (%)Ubi Alabio Putih Ubi Alabio Merah
Air77,55 83,16
PATI11,3011.07
Protein2,711,57
Serat1,361,44
Total Gula2,80 4,48

Agar mempunyai nilai tambah lebih tinggi, peneliti Balai Penelitian Pertanian LahanRawa (Balittra) telah mencoba mengolah ubi alabio menjadi berbagai produk olahanyanh lebih bervariasi serta lebih menarik penampilan dan rasanya sehingga memenuhiselera masyarakat. Produk olahan tersebut bisa langsung dikonsumsi (produk jadi) atausebagai bahan pangan setengah jadi seperti sawut kering dan tepung, yang selanjutnyadapat diolah menjadi berbagai produk pangan siap konsumsi. Pengolahannya dapatdilakukan petani, industri kecil maupun industri besar.

Produk Olahan
Keripik Ubi Alabio; Pembuatan keripik dapat dilakukan dengan cara sederhana, sepertihalnya keripik dari bahan lain yaitu ubi dikupas, diiris, dan digoreng. Dapat pula setelahdiiris ubi dikukus selama lima menit kemudian dijemur/dikeringkan agar tahandisimpan, baru digoreng.

Sawut Ubi Alabio; sawut merupakan produk setengah jadi, berbentuk serpihan keringdengan kadar air sekitar 10%, sehingga tahan disimpan. Pendayagunaannyapun mudah,cukup disiram air panas, diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit sampai lunak.Sawut dapat dikonsumsi bersama sayur dan lauk, atau dicampur dengan larutan gulamerah. Dapat pula sawut dicampur dengan telur, terigu, dan gula kemudian digorengatau dikukus kembali sesuai selera.

Tepung Ubi Alabio; dapat dimanfaatkan seperti halnya tepung lain, yaitu sebagai bahandasar pembuatan kue/roti dan mie. Untuk meningkatkan nilai gizinya dapat dicampurdengan tepung terigu atau tepung kacang-kacangan sesuai dengan jenis kue yang akandibuat atau selera. Tepung dibuat dengan menggiling bahan kering yang kemudiandiayak. Kadar air tepung sekitar 10% dan tahan disimpan selama enam bulan dalamkemasan plastik.

Bahan Industri; Ubi alabio berpotensi sebagai bahan baku industri PATI, alkohol danbahan obat-obatan, misalnya jenis Ubi Alabio merah dapat digunakan untuk bahanpembuatan es krim.

Budidaya Ubi Alabio
Ubi alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau tumpang saridengan tanaman padi, jagung, cabe, dan terong. Ubi alabio tidak terendam air danmenghendaki kondisi tanah gembur. Penanaman dilakukan di guludan/surjan pada saatair menjelang surut di musim kemarau.

Bibit ubi alabio dalam bentuk ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitupangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan maka makin besar pula hasil ubi.Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas baru ditanam di lahan.Penanaman dilakukan pada bulan Mei ? Juli dan panen pada bulan Oktober ?Desember. Ubi dipanen bila daun dan batang mulai mengering. Budidaya selama inimasih bersifat tradisional dengan hasil masih tergolong rendah yaitu 12 ? 28 ton/ha.Potensinya dapat dicapai menjadi 40 ? 50 ton/ha jika dilakukan budidaya denganmenerapkan teknologi usahatani yang tepat yaitu menggunakan pemupukan,pengendalian hama, dan penyakit serta penggunaan varietas terpilih.

Teknologi Bubidaya
Bibit ubi alabio disemai pada tempat persemaian, setelah tumbuh yunas ubi dapatditanam ke lapangan yang telah dipersiapkan berupa pembersihan dari gulma,penggemburan tanah dan pembuatan lubang tanam. Setelah tanaman cukup tinggidibuatkan tiang penyangga untuk media perambatan, satu tiang cukup untuk 4 ? 6tanaman. Cara merambatkannya dengan melilitkan tanaman berlawanan arah putaranjarum jam, jika salah melilitkan maka tanaman tidak bisa merambat.

Sebagai sumber hara, diperlukan pupuk 90 kg N/ha, 60 kg P2O5/ha dan 60 kg K2O/ha.Pemupukan pertama diberikan setengah dosis N dan seluruh dosis P dan K yangdiberikan pada saat tanaman berumur tujuh hari atau saat tanaman mulai meliit dan sisapupuk N diberikan pada saat tanaman berumur 42 hari. Pupuk diberikan dengan caraditugal di sekitar tiang rambat.

Pengendalian gulma pada pertanaman dan pembumbunan dilakukan secara manual padasaat ubi berumur 21 dan 42 hari. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada awalpertumbuhan dengan menyemprotkan insektisida Sevin dan memberikan Furudan sesuaidosis anjuran. Penyemprotan dapat dilakukan kembali jika ada serangan hama ataupenyakit lainnya. Panen dapat dilakukan 4 ? 7 bulan setelah tanam yang ditandai dengandaun dan batang yang mulai mengering.

Penulis dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa/ Balittra