Angsana Bikin Jamur Lewat
Tjandra Dewi (04/20/2007)

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pada bulan-bulan seperti sekarang, Februari sampai Mei, pohon angsana pasti mengeluarkan bunganya yang kuning dan wangi. Sosoknya yang menyegarkan mata membuat angsana banyak dipilih sebagai pohon peneduh jalan di kota besar.

Namun, bagi penduduk suku Dayak, Kutai, dan Pasir di pedalaman Kalimantan, pohon yang rimbun itu tak semata tempat bernaung atau penghias mata. Pohon angsana (Pterocarpus indicus) adalah sumber obat alami untuk menyembuhkan infeksi kulit akibat jamur.

Zat aktif yang diekstrak dari daun angsana ternyata memiliki sifat antijamur. Potensi daun angsana inilah yang menarik perhatian Irawan Wijaya Kusuma, peneliti dari Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur.

Pekerjaan yang menuntutnya keluar-masuk hutan memungkinkan Irawan bertemu dengan warga asli rimba Kalimantan dan belajar sedikit soal etnobotani, studi tentang penggunaan tumbuh-tumbuhan oleh etnis lokal. "Setiap kali masuk hutan, bisa empat sampai lima hari untuk mengumpulkan tumbuhan," kata Irawan. "Sekali pergi bisa membawa 30 sampai 40 jenis sampel tumbuhan."

Awalnya, staf pengajar di Universitas Mulawarman itu tertarik pada bahan antijamur yang bisa mengawetkan kayu sesuai dengan bidangnya. Namun, lama-kelamaan pria kelahiran Tanah Grogot, Kalimantan Timur, itu mengidentifikasi potensi bahan antijamur alami yang luar biasa dari tumbuhan Indonesia. "Sekarang saya sedang mendalami bahan antijamur untuk jamur yang menginfeksi kulit manusia," ungkapnya.

Tak hanya membasmi jamur penyebab panu, kurap, atau kutu air, bahan antijamur ini bisa pula digunakan sebagai fungisida di bidang kehutanan dan pertanian hingga bahan pengawet makanan dan minuman. Penggunaan di masyarakat juga telah meluas, dari industri medis dan berbagai produk cat dinding hingga sabun yang menawarkan bahan antijamur.

Namun, bahan antijamur yang beredar di masyarakat sekarang ini sebagian besar berasal dari bahan sintetis yang mahal. "Bahan antijamur dari tumbuhan ini bisa bersaing dari segi harga, juga peluang resistensi yang kecil," kata Irawan. "Sifat alaminya juga aman bagi tubuh dan lingkungan."

Salah satu flavonoid atau senyawa yang berhasil diekstrak dari daun angsana adalah isoliquiritigenin. Riset yang dilakukan Irawan untuk menguji efektivitas bahan antijamur itu berhasil membuktikan bahwa senyawa aktif dari ekstrak daun angsana punya kemampuan setara dengan nystatin dan miconazole, dua agen antijamur yang ada di pasaran. "Bisa digunakan sebagai fungisida pada tanaman pertanian atau pengawet produk pangan," kata peneliti yang lahir pada 12 April 1973 itu.

Senyawa aktif itu mampu mencegah pertumbuhan dan mematikan jamur Fusarium sp dan Trichoderma sp, dua jenis jamur patogen pada tumbuhan, serta Aspergillus dan Penicillium sp, jamur kontaminan makanan. "Kalau dari segi efektivitas, mungkin dosis bahan antijamur ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan nystatin dan miconazole, tapi ketersediaan di alam melimpah sehingga harganya murah," tuturnya.

Sampai saat ini, Irawan telah melakukan skrining atau menapis belasan tumbuhan asli Indonesia yang memiliki potensi aktivitas antijamur. Irawan sengaja memilih tumbuhan yang punya tingkat keawetan tinggi, seperti pohon yang kayunya digunakan untuk di luar ruangan, dan resistensi tinggi terhadap serangan jamur pelapuk. Informasi dari warga setempat tentang tumbuhan yang punya aktivitas antijamur juga menjadi pertimbangan.

Beberapa tumbuhan yang telah ditapis, antara lain, belangiran (Shorea belangeran), laban (Vitex pubescens), Dialium sp, Aporusa elmeri, eboni (Diospyros ebena), merbau (Intsia palembanica), dan rengas (Gluta renghas. Sampel tumbuhan itu sengaja diambil dari tiga lokasi di Kalimantan Barat, yang menjadi tempat tinggal Suku Dayak, Kutai, dan Pasir untuk merepresentasikan pemanfaatan tumbuhan oleh tiga suku itu. Tiga lokasi itu adalah Kutai Barat, Kutai Kertanegara, dan Kabupaten Pasir.

Doktor bidang kimia bahan alam dari Ehime University, Jepang, itu berharap riset tentang isolasi, identifikasi, dan pemanfaatan bahan antijamur dari tumbuhan Indonesia yang dikerjakannya ini bisa meningkatkan konservasi kekayaan hak intelektual Indonesia yang agak lemah. "Ini adalah upaya pembuktian ilmiah dari pemanfaatan tumbuhan obat tradisional," ujarnya. "Sekarang ini terlalu banyak ekstrak tumbuhan potensial yang dikirim ke luar negeri."

tjandra dewi

Plantamor adalah tempat berbagi informasi yang berkaitan dengan pengenalan berbagai jenis tumbuhan, mulai dari namanya, tampilannya, keindahannya, tempat tumbuhnya, hingga hubungan kekerabatan mereka antara satu dengan lainnya. Selain itu, Plantamor juga menyediakan berbagai informasi tambahan yang relevan dengan dunia tumbuhan termasuk menyediakan sarana untuk melihat secara virtual tampilan mereka di lokasi nyata tempat tumbuhnya.

Nama-nama ilmiah dan taksa yang tersimpan di dalam catatan Plantamor adalah kumpulan dari berbagai sumber, terutama USDA. Buku utama yang paling sering kami jadikan acuan adalah Tropica; Color Cyclopedia of Exotic Plants and Trees hasil karya Alferd Byrd Graf. Nama-nama ilmiah dan umum dalam bahasa Inggris hampir bisa dipastikan berasal dari kedua sumber utama tersebut. Adapun nama-nama umum dalam berbagai bahasa di Asia Tenggara banyak kami ambil dari buku-buku terbitan PROSEA, Plant Resources of South-East Asia merupakan salah satunya. Tentu saja, kami juga tetap selalu mencari sumber lain jika masih diperlukan untuk verifikasi.

Terima kasih anda telah mengunjungi kami. Jika ada saran dan koreksi, silakan anda sampaikan melalui plantamor dot com dengan nama akun muslihudin. Kami akan menerimanya dengan senang hati.



Terima kasih,
Cak Mus