Kantong Surga di Afrika
Tjandra Dewi (03/12/2007)

TEMPO Interaktif, NEW YORK:
Pegunungan Eastern Arc di Tanzania mungkin tidak terlalu jangkung, hanya separuh dari tinggi Gunung Kilimanjaro, tetangganya yang terkenal itu. Namun, bagi para ilmuwan, Eastern Arc merupakan gunung tertinggi di seluruh dunia dari segi keanekaragaman hayati. Hutan yang menyelimuti tebingnya berisi beragam binatang yang terancam punah dengan densitas tertinggi dibandingkan dengan wilayah mana pun di bumi ini.

"Ini adalah tempat yang benar-benar penting untuk konservasi," kata Neil Burgess, pakar Pegunungan Eastern Arc dari University of Cambridge, Inggris, dan World Wildlife Fund. "Ahli biologi yang datang ke sana selalu menemukan lebih banyak lagi spesies baru."

Pada Januari lalu, sebuah jejaring peneliti internasional mempresentasikan penemuan terakhir tentang keanekaragaman di Eastern Arc dalam jurnal Biological Conservation. Umumnya, spesies binatang dan tumbuhan yang ditemukan di pegunungan itu tidak ditemukan di tempat lain, alias spesies endemik.

Burgess mengatakan daerah Eastern Arc yang liar itu bisa diibaratkan kantong surga, tempat perlindungan terakhir yang masih tertinggal bagi lebih dari seribu spesies endemik, baik hewan maupun tumbuhan.

Sampai saat ini, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi 96 spesies vertebrata endemik di sana, termasuk burung matahari, beragam bunglon, dan primata bermata lebar yang disebut bushbaby atau monyet malam. Masih ada 15 binatang baru yang baru ditemukan dan dalam proses identifikasi--proses ini bisa makan waktu sampai 14 tahun untuk bisa diterima komunitas ilmiah.

Kebanyakan serangga di Eastern Arc, yang jumlahnya mencapai ratusan spesies, juga tergolong endemik, termasuk 43 jenis kupu-kupu. Begitu juga dengan reptil dan amfibi, seperti katak pohon dan sejumlah spesies bunglon yang baru ditemukan. Berbagai jenis tanaman hias yang terkenal di dunia berasal dari hutan yang pada malam hari kerap berselimut kabut ini, seperti violet Afrika. Pegunungan yang berbatasan dengan Kenya ini juga menjadi kampung halaman 832 spesies tumbuhan endemik lainnya.

Seluruh spesies itu tersebar di 13 bagian hutan pegunungan yang, jika disatukan, tak lebih besar daripada Negara Bagian Rhode Island di Amerika Serikat, sekitar 24 ribu kilometer persegi. Hanya sedikit tempat di bumi, termasuk Selandia Baru dan Madagaskar, yang memiliki konsentrasi spesies endemik terancam punah setara dengan pegunungan itu. Para ilmuwan menyebut tempat-tempat unik itu sebagai hot spot keanekaragaman hayati.

Geografi memainkan peran penting dalam menjadikan satu wilayah menjadi sebuah hot spot. Eastern Arc, misalnya, diperkirakan telah menjadi tempat yang ada seperti sekarang ini sejak 30 juta tahun lampau. "Ada kemungkinan hutan itu sudah ada jutaan tahun yang lalu," kata Burgess. "Bahkan di musim kering sekalipun hutan itu tetap bertahan."

Satwa dan tumbuhan yang sudah punah di berbagai wilayah lain di Afrika Timur tetap bisa bertahan hidup di Eastern Arc. Studi DNA terhadap burung dan primata di situ telah mengungkap bahwa banyak spesies yang berasal dari garis keturunan kuno.

Dalam beberapa kasus, kerabat terdekat mereka yang masih hidup ternyata ditemukan ratusan sampai ribuan kilometer jauhnya. Beberapa jenis burung pedalaman Afrika ini menunjukkan pertalian yang lebih kental dengan burung di Asia Tenggara dibandingkan dengan burung Afrika.

Ketika garis silsilah berbagai spesies ini berlanjut memasuki abad demi abad, spesies baru juga berkembang. Beberapa jenis tumbuhan dan binatang, seperti tikus bermoncong gajah dan bushbaby, diperkirakan telah berkembang sejak awal dalam garis keturunan spesies itu, yang dikenal sebagai primitif atau garis silsilah warisan kuno. "Kami bisa menemukan spesies dari masa lalu terkumpul di pegunungan itu, begitu juga dengan spesies yang baru berevolusi," kata Burgess.

Keanekaragaman di pegunungan sebelah timur Tanzania ini makin menarik minat para peneliti karena 70 persen hutan aslinya telah musnah. Seperti yang terjadi di berbagai wilayah bumi lainnya, petani dan penebang kayu menggunduli hutan, dan pemburu membantai sejumlah mamalia besar, seperti gajah dan banteng. Sedangkan spesies mamalia lain yang tersisa dalam kondisi yang nyaris punah. Data merah IUCN menunjukkan 76 spesies dari 98 satwa bertulang belakang endemik masuk kategori terancam.

Kerusakan hutan ini juga terbukti mempengaruhi perekonomian Tanzania. Sungai yang mengalir dari pegunungan merupakan sumber energi bendungan yang memasok separuh dari energi listrik dan sumber air minum bagi 60 persen penduduk urban negara itu. Penggundulan hutan membuat suplai air tak bisa diandalkan pada saat bulan-bulan kering--sama seperti yang terjadi di Bendungan Jatiluhur, Jawa Barat, yang permukaan airnya selalu kritis pada musim kemarau panjang. Pemerintah Tanzania dan organisasi konservasi bekerja mencari cara untuk memelihara dan mempertahankan hutan yang tersisa. Pada saat ini, sudah ada tujuh daerah suaka yang siap dideklarasikan untuk menambah lahan konservasi pegunungan itu seluas 61.999,8 hektare.

Dengan dana dari Critical Ecosystem Partnership Fund, para ilmuwan melanjutkan eksplorasi hutan Pegunungan Eastern Arc untuk menemukan spesies baru. Mereka yakin masih banyak amfibi serta reptil kecil dan besar yang menunggu untuk ditemukan.

Pada 2005, misalnya, para peneliti itu menemukan spesies baru monyet, primata pemanjat pohon yang bertubuh ramping dan disebut kipunji (Rungwecebus kipunji). Mulanya monyet itu dianggap masuk kelompok monyet mangabey, tapi tahun lalu ilmuwan yang meneliti DNA monyet itu kaget karena satwa langka itu sama sekali bukan mangabey. Kerabat terdekat yang sebenarnya adalah babun.

Burgess memperkirakan spesies-spesies endemik akan terus ditemukan di Eastern Arc dalam beberapa tahun mendatang. Dalam dua tahun mendatang, survei akan dilanjutkan dan diperkirakan penemuan baru akan didapat di daerah yang terpencil dan belum pernah dijelajahi. "Akan ada banyak hal baru dan menarik yang ditemukan di sana," ujarnya.

tjandra dewi |WWF | NYTimes | WCS