Plasma Pemicu Pertumbuhan
Tjandra Dewi (09/27/2006)

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Hanya empat helai daun bakau yang tumbuh dalam setahun. Paling banyak enam helai yang keluar dari sebatang bibit pohon Rhizopora apiculata.

Itu artinya satu helai daun perlu waktu dua sampai tiga bulan untuk tumbuh. Lama sekali. "Ya, harus sabar," kata Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan Darori.

Kesabaran lebih memang harus dimiliki Darori dan jajaran di bawahnya. Departemen Kehutanan telah mencanangkan gerakan untuk merehabilitasi 1,5 juta hektare lahan hutan mangrove di seluruh Indonesia.

Pada saat ini, sekitar 6,7 juta hektare atau 70 persen dari 9,4 juta hektare hutan bakau dalam kondisi rusak. Data Departemen Kehutanan mencatat, 4,5 juta hektare hutan bakau masuk kategori rusak sedang dan 2,2 juta hektare rusak berat.Kerusakan ini diperkirakan terus bertambah karena eksploitasi yang dilakukan tidak seimbang dengan proses rehabilitasi. Upaya rehabilitasi pemerintah pada 2004 dan 2005 hanya berhasil menghijaukan 34.601 hektare hutan bakau. Sedangkan tahun ini targetnya 2.790 hektare.

Tapi tidak cuma kesabaran yang diperlukan untuk menghijaukan kembali hutan bakau yang rusak. Gulungan ombak besar bisa menghanyutkan bibit muda yang baru tumbuh. Bibit bakau juga disukai kepiting laut, sehingga perlu pemeriksaan rutin dan penanaman ulang serta penyediaan pasokan benih mangrove siap tanam. Penanaman benih dipilih karena tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Meskipun penanaman bakau bisa dilakukan dengan menancapkan buahnya langsung ke tanah, tingkat keberhasilannya amat rendah, yakni hanya 20 persen. Buah yang lebih dulu disemai bisa meningkatkan keberhasilan tumbuh dua sampai tiga kali.

Kesulitan rehabilitasi hutan mangrove ini menarik perhatian Nasruddin. Mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro, Semarang, itu prihatin dengan kondisi hutan mangrove di Jawa Tengah, yang tinggal 46 ribu hektare, atau tersisa 30 persen dari luas semula. Nasruddin menyatakan problem rehabilitasi terletak pada mangrove itu sendiri. Pohon yang tumbuh di bibir pantai berair asin itu termasuk tumbuhan yang lama sekali perkembangannya, cuma 1,5 sentimeter per tahun. "Bahkan benih mangrove untuk layak tumbuh itu perlu waktu sampai satu setengah tahun," katanya.

Sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya, Nasruddin mencoba meningkatkan pertumbuhan benih mangrove dengan teknologi plasma. Teknologi ini sama dengan teknik yang dipakai dalam televisi plasma atau plasma cluster, berupa gas yang terionisasi dalam lucutan listrik.

Dalam pembenihan, teknologi plasma dipakai untuk mengurai udara untuk membebaskan unsur nitrogen yang terkandung dalam udara. Ion nitrogen yang dihasilkan ketika udara terurai itu kemudian ditembakkan ke benih mangrove itu. Radiasi ion nitrogen inilah yang berfungsi mempercepat pertumbuhan tanaman. "Ion nitrogen dalam wujud radikal bebas ini menyusup ke dalam propagul mangrove dan berfungsi sebagai pupuk penyuplai unsur nitrogen," kata Nasruddin.

Pemuda kelahiran Batang, 25 April 1982, itu menyatakan unsur nitrogen diperlukan tanaman terutama saat perkecambahan dan perkembangan daun. Unsur itu dipakai untuk membentuk senyawa penting, seperti klorofil, asam nukleat, dan enzim.

Maka, sejak 2005, Nasruddin mulai menjalin komunikasi dengan kelompok studi mahasiswa jurusan kelautan di universitasnya yang mengkaji mangrove. Dia juga bekerja sama dengan sebuah kelompok tani tambak dan mangrove Sidodadi Maju, Dukuh Kaliuntu, Pasarbanggi, Rembang. Jarak Semarang-Rembang--empat jam perjalanan--tak menyurutkan semangat mahasiswa yang sejak Agustus 2005 mulai bekerja lepas sebagai asisten peneliti di Pusat Studi Aplikasi Radiasi dan Rekayasa Bahan Universitas Diponegoro itu.

Nasruddin memulai penelitiannya pada September sampai Desember 2005 di Laboratorium Atom dan Nuklir di jurusannya. Dia dibantu Mey Amna Hijriyati, mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Diponegoro. Mey membantu memberikan kajian biologi mangrove dan penyiapan benih mangrove, perangkat, dan bahan media tanam.

Ternyata radiasi terhadap benih mangrove menunjukkan hasil positif. Berdasarkan penelitian laboratorium selama 3 bulan 17 hari, pertumbuhan benih yang sebelumnya diradiasi plasma tumbuh 40 persen lebih cepat dibanding benih yang tidak diradiasi. Sementara benih mangrove Rhizophora apiculata siap tanam berumur 6 bulan, dengan radiasi plasma cukup 3-4 bulan.

Hanya satu hal yang belum bisa dijawab Nasruddin, yakni apakah radiasi ini bisa mempengaruhi proses pertumbuhan mangrove selanjutnya hingga tumbuh besar atau sekadar mempercepat pertunasan. "Ini memerlukan penelitian lebih lanjut," ujar pemuda yang bercita-cita menjadi peneliti dan dosen itu.

Penelitian yang singkat, cuma seperempat tahun, belum bisa menjawab sejauh mana peran teknologi plasma dalam menyusupkan ion nitrogen ke dalam benih. Apakah teknologi ini sebatas mempengaruhi fungsi enzim dan hormon atau sampai pada taraf mutasi gen.

"Jika hanya sebatas enzim dan hormon, secara biologis, fenomena yang terjadi tak jauh beda dengan fungsi pupuk-pupuk kaya nitrogen, yang sifatnya sementara," katanya. "Bila kadar nitrogen dalam benih susut, atau setara dengan benih normal, kecepatannya turun menjadi normal."

Nasruddin mengatakan, jika radiasi ini sampai taraf mutasi gen, akan didapat spesies mangrove yang berpotensi tumbuh cepat selamanya. Pada mangrove itu terjadi perombakan struktur gen dan DNA.

Meski "belum tuntas", penelitian Nasruddin membawanya menjadi koordinator lapangan program teknologi terapan terpadu Program Fasilitasi Perguruan Tinggi di universitasnya. Ketua Bidang Penerapan Teknologi Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro sekaligus dosen pembimbingnya, Dr Muhammad Nur, mengusulkan hasil penelitian ini diterapkan dalam skala lapangan.

"Obyek kami garap langsung di kawasan hutan mangrove Rembang," kata Nasruddin, yang baru diwisuda akhir Juli 2006. "Selama Mei sampai Agustus, hampir dua pekan sekali saya bolak-balik Semarang-Rembang."

Tak cuma itu, berkat penelitiannya ini, Nasruddin terpilih sebagai pemenang pertama Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia V Tahun 2006 bidang ilmu pengetahuan teknik. Dalam kegiatan yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu, Nasruddin berhasil menyisihkan empat pesaingnya di babak final. Prestasinya ini membuktikan kemampuan Nasruddin. Semula ada dosen yang meragukan kemampuan riset laboratorium pemuda ini. Alasannya, selama kuliah, Nasruddin lebih gemar membaca buku filsafat, sosial, politik, sastra, dan wacana keagamaan ketimbang buku fisika.

Nasruddin berharap penelitian ini dapat diteruskan. Masih terbuka peluang yang amat luas untuk riset lanjutan, baik soal efek kadar protein benih pascaradiasi plasma, analisis reaksi kimiawi benih saat diradiasi plasma, maupun analisa genetikanya.

TJANDRA DEWI


Selamat datang di Plantamor. Situs ini kami kembangkan sebagai ajang untuk berbagi informasi mengenai tumbuhan mulai dari nama ilmiahnya, nama umumnya, kekerabatannya, hingga penampakannya. Selain itu, di situs ini kami juga berbagi infomasi mengenai berbagai hal yang relevan dengan dunia tumbuhan. Melalui peta online kami juga menyediakan sarana untuk melihat secara virtual penampakan berbagai jenis tumbuhan di lokasi nyata tempat tumbuhnya.

Informasi tentang nama-nama tumbuhan di situs ini dikumpulkan dari berbagai sumber. Untuk nama-nama ilmiah dan taksanya sebagian besar kami merujuk ke situs tumbuhan milik USDA (US Department of Agriculture). Sumber lain yang paling sering kami jadikan rujukan adalah buku "Tropica; Color Cyclopedia of Exotic Plants and Trees" hasil karya Alferd Byrd Graf. Nama-nama ilmiah dan nama-nama umum tumbuhan dalam bahasa Inggris di situs ini hampir bisa dipastikan berasal dari dua sumber utama tersebut. Adapun nama-nama umum dalam berbagai bahasa di Asia Tenggara banyak kami ambil dari buku-buku terbitan PROSEA (Plant Resources of South-East Asia). Kami juga mengacu ke sumber-sumber lain jika dirasa masih diperlukan untuk verifikasi dan tambahan informasi.

Terima kasih Anda telah mengunjungi situs kami. Situs ini merupakan kreasi pribadi yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan institusi manapun. Karena itu kami sangat senang apabila Anda bersedia menyumbangkan kritik atau saran untuk meningkatkan manfaat dan perbaikan yang berkelanjutan dari situs ini. Kami dapat dihubungi melalui alamat email di muslihudin dot c at gmail dot com.



Terima kasih,
Cak Mus