Nilam, Tanaman Semak yang Jadi Minyak Mahal
Caesar Alexey (04/14/2005)

PADA awalnya, sebagian penduduk Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, menganggap nilam sebagai tanaman perdu atau semak. Tanaman ini sangat mengganggu pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya. Nilam menyerap unsur hara dalam jumlah besar sehingga tanaman lain di dekatnya akan layu atau tak berbuah.

Namun, sejak ditemukannya teknologi sederhana pengubah batang dan daun nilam menjadi minyak nilam pada akhir tahun 1970-an, tanaman perdu itu justru menjadi salah satu favorit para petani setempat. Sampai saat ini, nilam (Posgostemon cablin benth) masih digemari sebagian penduduk Bengkulu Utara karena setelah diolah menjadi minyak bernilai Rp 220.000 per liter.

Di Desa Alas Gandus, Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara, tanaman nilam juga dibudidayakan di ladang sebagai tanaman alternatif selain padi.

Menurut Amir, petani nilam Desa Alas Bangun, penanaman nilam dinilai cukup sederhana karena setiap bibit yang diperoleh dari sistem stek ditanam di tanah dengan jarak 60 cm. Selanjutnya tinggal menunggu enam bulan sebelum dipanen karena batang telah mencapai ketinggian satu meter. Setelah panen, nilam dibiarkan tumbuh sendiri dan dapat dipanen lagi setiap tiga bulan.

Di desa yang merupakan bekas lahan perkebunan yang ditelantarkan dan hutan belukar itu, nilam tumbuh dengan baik karena berada pada ketinggian 10 meter hingga 400 meter di atas permukaan laut. Selain itu, masih banyaknya humus membuat nilam bisa tumbuh baik, tanpa dipupuk atau disiram secara teratur. Meskipun demikian, nilam biasanya hanya dipertahankan sampai panen kedua karena hasilnya akan menurun setelah itu.

HEN, petani dan pembuat minyak nilam di Alas Bangun, mengatakan, setelah dipanen batang dan daun nilam dijemur tiga hari sampai kering. Pengurangan kadar air mutlak diperlukan agar kualitas minyak yang dihasilkan tetap tinggi.

Setelah benar-benar kering, batang nilam harus dipisahkan dari daunnya, lalu dicincang agar mudah dimasukkan ke dalam silinder penyulingan. Menurut Hen, minyak yang paling baik diperoleh dari penyulingan batang nilam.

Daun nilam juga dapat disuling menjadi minyak, tetapi kualitasnya masih di bawah minyak yang dihasilkan oleh batang. Karena itu, para perajin biasanya mencampur batang dan daun nilam untuk disuling secara bersama.

Alat penyulingan terdiri atas sebuah ketel penguapan air, ketel penampung batang nilam, dan pipa-pipa yang menghubungkan berbagai peranti besar lainnya. Menurut Hen, harga satu set alat penyulingan sekitar Rp 1,7 juta dapat dipesan di bengkel las di daerah itu.

Proses penyulingan dimulai dengan merebus air di ketel penguapan. Uap dari ketel dialirkan melalui pipa kecil ke ketel penampung batang nilam. Di silinder yang mampu menampung 20-40 kilogram batang nilam itu, uap air ditampung dalam ruang setinggi 40 sentimeter. Itu dilakukan agar mempunyai tekanan yang memadai dan dapat dialirkan ke tumpukan batang nilam untuk memulai proses penyulingan.

Uap hasil penyulingan dialirkan melalui pipa dan melewati tempat pendinginan untuk mengubah uap menjadi cair. Di Alas Bangun dan desa lain di Kecamatan Ketahun, proses pendinginan dilakukan di saluran air yang terus mengalir.

Setelah didinginkan, campuran minyak nilam dan air dipisahkan di sebuah tempat dengan mengandalkan beda berat jenis kedua zat itu.

Menurut Nopan, petani dan perajin minyak nilam, dalam proses yang berlangsung delapan jam, api harus selalu dijaga agar terus berkobar dan air harus selalu ditambahkan dalam ketel penguapan. Dari setiap 20 kilogram batang nilam dapat dihasilkan 0,5-0,6 liter minyak nilam.

Hasil itu dinilai masih belum optimal karena jika penyulingan diteruskan sampai 12 jam, minyak yang dihasilkan dapat mencapai 0,8 liter. Namun, karena kayu bakar dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, para perajin menghentikan aktivitas mereka setelah delapan jam.

Hasil penyulingan dan harga minyak nilam dinilai cukup menguntungkan petani yang merangkap sebagai perajin minyak nilam musiman. Satu hektar kebun nilam mampu menghasilkan 100-150 kilogram.

Menurut Iwan Dahlan, Kepala Desa Alas Bangun, desa itu setiap bulan menghasilkan 500 liter minyak nilam. Setiap penduduk yang menyuling nilamnya harus memberikan 10 persen hasil yang diperolehnya kepada pemilik penyulingan.

Minyak nilam itu dijual kepada tauke yang kemudian menjualnya ke juragan besar di Arga Makmur, ibu kota Kabupaten Bengkulu Utara, dengan harga Rp 270.000 per liter.

Selanjutnya, minyak nilam itu dijual ke Jakarta atau diekspor untuk dijadikan minyak atsiri. Dengan sifat fikatif atau pengawet bau yang dimilikinya, minyak atsiri dari nilam dapat dijadikan bahan kosmetik, parfum, dan obat-obatan.

Kegiatan penyulingan minyak nilam tersebar hampir merata di seluruh Bengkulu Utara. Selain di Kecamatan Ketahun, pusat-pusat penyulingan minyak nilam juga terdapat di Kecamatan Lais dan Arga Makmur. Di kedua kecamatan itu, sebagian penyulingan minyak nilam sudah menggunakan ketel yang lebih modern, dengan pendingin yang tidak lagi terlalu mengandalkan aliran air alam.

Selain di Bengkulu Utara, minyak nilam juga diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Lebong dan Mukomuko. Peralatan penyulingan minyak nilam dimiliki secara pribadi oleh sejumlah perajin sehingga petani yang tidak memiliki alat penyulingan harus bergantian menggunakannya.

Bagi hasil dari penyulingan minyak nilam di daerah itu menggunakan dua sistem, yaitu petani menyuling sendiri hasil panen mereka dengan peralatan orang lain, atau petani menjual hasil panen nilam kepada pemilik alat penyulingan. Pada sistem pertama, petani harus menyerahkan 10 persen hasil sulingan kepada pemilik alat.

Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bengkulu, di provinsi itu ada 7.182 hektar tanaman nilam, 5.519 ha di antaranya tanaman produktif dan sisanya belum menghasilkan. Dari luas lahan tersebut, Bengkulu menghasilkan sekitar 13.800 liter minyak nilam setahun. Ekspor minyak nilam terutama ke Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Inggris. (caesar alexey)