Peningkatan Kualitas & Kuantitas Panen Pada Musim Penghujan
Wahyu Fajar Widodo (02/07/2010)

Pada musim hujan seperti saat ini peluang bertani menjadi terbuka terutama pada sawah tadah hujan, karena melimpahnya air sebagai sumber hidup pada budidaya tanaman pangan. Tapi pada musim penghujan juga kuantitas & kualitas hasil produksi pertanian menurun, mengapa demikian ? ada 3 faktor utama yang mempengaruhi turunnya kuantitas & kualitas panen pada musim penghujan. Faktor utama adalah terjadinya pencucian besar-besaran terhadap unsur hara yang ada pada tanah oleh air hujan, Faktor kedua kelembapan yang tinggi sehingga menjadikan tanah menjadi masam yang pada akhirnya menjadikan tanaman mudah terserang virus ataupun jamur, Faktor ketiga dg tingginya curah hujan yang mengakibatkan tingginya kelembapan air, maka secara alami tanaman akan berusaha mengurangi kadar air melalui daun, pada kondisi curah hujan tinggi tanaman akan mengalami fase Vegetatif sempurna ditandai dengan lebar dan lebatnya daun tanaman sehingga mengganggu fase generatif dan pematangan buah.

Pada budidaya sayuran daun seperti Bayam, Kangkung, Sawi, dll sempurnanya fase Vegetatif merupakan tujuan akhir budidayanya. Berbeda pada budidaya tanaman pangan dan buah yang membutuhkan keseimbangan setiap fase pertumbuhan, sehingga kualitas dan kuantitas hasil produksi dapat diraih.

Banyaknya petani yang kurang memahami tehnik budidaya tanaman pangan dan buah pada musim hujan, pada akhirnya menyebabkan mental pasrah dengan kondisi. Padahal pada musim hujan kualitas dan kuantitas produksi dapat ditingkatkan sebaik pada musim kemarau.

Pada musim penghujan seperti saat ini banyak petani berinisiatif bahwa peningkatan dosis pupuk dan peningkatan dosis pengendali hama secara kimiawi merupakan kunci keberhasilan dalam bertani pada musim hujan. Padahal tidak demikian, pada musim hujan seringnya terjadi pencucian oleh hujan secara besar-besaran terhadap nutrisi dan unsur hara yang ada ( yang tersedia maupun yang diberikan ). Sehingga peningkatan dosis pupuk dan pengendali hama secara kimiawi menjadi sia-sia belaka.

Tekhnologi pertanian yang telah kami lakukan pada tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman buah merupakan tekhnologi sederhana dengan lebih mengefisiensikan pemupukkan dan pemberian nutrisi tanpa harus meningkatkan dosis pupuk, peningkatan kualitas dan kuantitas panen / hasil produksi dilakukan dengan peningkatan frekwensi / waktu pemberian pupuk dan pengendalian hama secara kimiawi dilakukan sebagai solusi terakhir. Pengertian peningkatan frekwensi / waktu pemberian pupuk adalah semakin pendeknya jarak pemupukkan dengan dosis pupuk tetap / sama dengan dosis biasanya, diharapkan nutrisi yang diberikan langsung terserap habis oleh tanaman tanpa adanya pencucian nutrisi besar-besaran oleh hujan, sehingga pertumbuhan akan optimal dan kualitas serta kuantitas panen dapat diraih.

Lain daripada itu juga diperlukan bahan organik yang mampu mengikat unsur hara dan mampu melepaskannya disaat tanaman membutuhkan unsur hara tersebut, dalam hal ini kami menyarankan penggunaan pupuk HOSC yang memang sudah terbukti sebagai pembenah tanah, penyedia unsur hara dan pengikat unsur hara tersedia. Dengan digunakannya pupuk HOSC sebagai pupuk dasar dan tutupan, maka pencucian terhadap unsur hara dan nutrisi pada tanah oleh air hujan dapat dikendalikan sehingga nutrisi dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman tetap tersedia, meskipun pada musim penghujan seperti saat ini. Perlunya bahan organik sempurna pada tanah selain sebagai penyubur tanah dan dapat mengembalikan fungsi tanah sebagai media hidup tanaman juga sebagai penetralisir ph tanah. Semakin dekatnya tanaman dengan habitat asli tanaman tersebut, akan mengakibatkan tanaman lebih subur, tahan hama dan dapat berproduksi secara optimal.

Perlu dilakukan pemberian informasi yang tepat dan berkala kepada petani-petani oleh para pakar pertanian, supaya kesejahteraan masyarakat tani dapat terwujud. Pemberian nutrisi yang tepat dan terukur secara tekhnis dan ekonomis dapat mengurangi kuantitas pemberian pupuk kimia tanpa harus terjadi penurunan kualitas dan kuantitas panen. Dengan demikian kestabilan bahan pangan, suply sembako nasional, kesehatan pangan dan kesehatan masyarakat dapat diraih secara luas.

Demikian, semoga bermanfaat dan menjadi solusi berkesinambungan.

SAVE OUR NATURE FOR NEXT GENERATIONS®

Mari Kita Jaga Alam Kita Untuk Generasi Penerus Kita

Penulis,
Wahyu Fajar Widodo