Bunga Roselle Kini Ramai Dibudidayakan
Adam A. Chevny (06/28/2005)

Anda bingung mau usaha apa? Jangan takut. Indonesia negeri kaya potensi untuk dijadikan usaha. Mulai usaha jasa sampai menjual hasil bumi. Anda tidak perlu ragu. Pasarnya pun tidak melulu di dalam negeri. Hasil bumi Indonesia, misalnya, banyak diminati bangsa lain.

Anda belum yakin? Simak misalnya pemberitaan tentang udang. AS dan Jepang merupakan negara yang paling meminati udang Indonesia. Mau tahu lagi ? Kelapa sawit, hasil hutan, kakao, teh, dan masih banyak lagi. Itu pun belum sampai di situ.

Kini, ada satu komoditas lagi yang bisa dijadikan modal usaha yang menjanjikan keuntungan yang lumayan mengasyikan. Salah satu komoditas yang memberikan peluang bisnis itu bunga roselle [Hibiscus sabdariffa].

Konon, bunga ini, suda banyak dibudidayakan pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia dulu. Hanya saja, penggunaannya di zaman itu masih belum meluas dan boleh jadi hanya dikonsumsi oleh pasukan maupun kalangan pejabat Jepang.

Pasca pendudukan Jepang, bahan minuman bunga roselle juga pernah muncul dan saat itu lazim disebut perambos, dimana rasanya asam manis [sesudah ditambahkan gula] dengan warna merah menyerupai warna asli bunganya. Aromanya khas.

Kini tanaman yang tergolong semusim itu kembali dipopulerkan oleh para pembudidaya di provinsi Jawa Timur, dan karena itu tadi, peluang bisnisnya dinilai cukup menjanjikan. Namun sekali lagi, yang dikomersialkan tetap bagian bunga yang diproses menjadi bahan minuman ringan.

Ada dua cara pemrosesan bunga roselle layak jual. Pertama diolah menjadi minuman siap konsumsi yang dikemas dalam botol maupun gelas plastik seperti halnya produk air minum mineral dalam kemasan. Kedua, dipasarkan dalam bentuk rajangan maupun powder atau menyerupai produk teh. Kini, usaha tersebut, sejak tahun lalu tepatnya, telah berjalan di Jatim dan tahun ini, diperkirakan telah mengalami perkembangan.

Sekup usaha kecil? Menang. Berdasarkan hasil pengamatan Bisnis, kegiatan produksi bahan minuman bunga roselle masih dilaksanakan dalam bentuk industri skala kecil menengah yang mencakup peralatan yang digunakan maupun volume usahanya. Namun, peluang usaha tersebut diyakini cukup prospektif apalagi jika ditambah dengan kegiatan promosi yang gencar. Mengingat potensi pasar minuman ringan, terlebih yang berbahanbaku roselle, masih cukup besar.

Melihat besarnya potensi yang dimilki oleh komoditas tersebut, CV Pendopo Agung kini tengah melakukan pembudidayaan bunga roselle seluas 10 ha di lereng Gunung Wilis wilayah Kec. Semen, Kab. Kediri.

Caranya, perusahaan skala kecil menengah itu, menjalin kemitraan dengan 53 petani di wilayah tersebut sekaligus mengoperasikan pabrik pemrosesan menjadi roselle rajangan, kendati masih menggunakan peralatan sederhana bertenaga listrik.

Pimpinan CV Pendopo Agung, Susilo, mengakui potensi pasar dalam menangkap produk olahan komoditas ini. Karena itu, sejak tahun lalu, dia sudah mengembangkan usaha itu.

Dia menyebutkan pihaknya membudidayakan tanaman roselle sejak awal tahun lalu di lahan berketinggian 300 meter di atas permukaan laut, dimana pengembangannya melibatkan lahan milik petani.

"Kami membagikan biji-biji roselle kepada para petani di tiga desa sekitar sini, kemudian kami menampung hasil panen bunganya seharga Rp4.000 per kg basah," ujarnya saat ditemui di pabriknya.

Susilo mendirikan pabrik pemrosesan/perajangan bunga roselle berkapasitas 100 kg/ jam di tengah-tengah kebun roselle, dimana dia merekayasa sendiri peralatan bertenaga listrik.

Pendapatan tambahan

Awal tanam roselle yang baik jatuh pada Januari, dengan jarak tanam dua meter kali dua meter atau sekitar 2.500 pohon per ha. Tanaman tersebut mulai memproduksi bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus dalam jangka waktu tiga bulan sebelum akhirnya diganti dengan bibit baru.

Satu batang tanaman roselle disebutkan menghasilkan panen 1,5 kg bunga basah. Sementara rendemennya dalam bentuk kering 10% sesudah dijemur di bawah terik matahari selama tiga hari ataupun menggunakan oven. Kandungan bunga roselle basah terdiri dari air 82,49%, abu 1,26%, bahan tidak larut 7,39%, malic acid 3,31%, fructosa 0,82%, dan sukrosa 0,24%.

Tanaman tersebut dibudidayakan di lereng Gunung Wilis di tiga desa wilayah Kec. Semen. Areal berketinggian 300 meter-400 meter di atas permukaan laut (dpl) itu tergolong lahan tadah hujan yang lazim dimanfaatkan menanam ketela serta jagung. Kini komoditas tersebut masih dikembangkan, tetapi petani setempat memiliki tambahan pendapatan dengan membudidayakan roselle.

Jelas, respon petani menanam itu sangat antusias. Apalagi tanaman ini tergolong tanaman yang tidak menyusahkan. "Respon petani terhadap pembudidayaan tanaman roselle cukup baik, karena di dataran rendah pun bisa tumbuh dengan baik menggunakan pupuk organik yang dibuat sendiri. Apalagi kini sudah tersedia banyak bibit secara cuma-cuma," tutur Susilo.

Hal itu dibenarkan oleh Kantiono, mantri pertanian Kec. Semen. Menurut dia, petani di wilayah kecamatan tersebut cukup antusias dalam membudidayakan roselle. Petani setempat menjadikannya sebagai tanaman pokok maupun tanaman sela di pematang.

"Pembudidayaan roselle lebih mudah dibandingkan tanaman lain, tetapi sejauh ini belum diketahui hama yang bisa merusak tanaman ini. Sedangkan pupuknya menggunakan kotoran lembu," tuturnya.

Dengan tingkat harga Rp4.000 per kg di tingkat pabrik, CV Pendopo Agung, pembudidayaan roselle dinilai cukup menguntungkan, terlebih-lebih pembelian yang diterapkan perusahaan tersebut secara kontan.

Apalagi, Susilo mampu menekan biaya produksi dengan menekan nilai investasi pabrik CV Pendopo yang dibuat menjadi hanya beberapa puluh juta rupiah, dengan cara merakit sendiri mesin pemrosesnya.

Tapi, produk yang dihasilkannya, berupa roselle rajangan yang dikemas di botol plastik ukuran 85 gram, dimana penggunaannya menjadi minuman ringan laiknya menyeduh teh. Lantaran itu, CV Pendopo menyebut produk tersebut sebagai teh merah yang dapat dikonsumsi anak-anak hingga orang dewasa.

Cara penyajiannya satu sendok rajangan roselle dimasukkan cangkir atau teko, kemudian dituang dengan air panas ukuran 500 mililter. Tentu saja minuman tersebut perlu ditambahkan gula, dan bisa disajikan dalam kondisi hangat maupun dingin.

CV Pendopo kini tengah berancang-ancang untuk melakuka penetrasi pasar. Dia tengah berupaya memasarkan produk tersebut ke swalayan maupun toko-toko melalui agen. "Tapi saya belum menetapkan harga jual per botol ukuran 85 gram," ujar Susilo.

Selain perusahaan yang berbasis di Kab. Kediri tersebut, di kota Surabaya juga terdapat pengusaha yang sudah menggeluti usaha roselle. Yakni PT Jolo Sutro Nusantoro. Perusahaan ini memproses roselle dalam bentuk cair siap minum yang dipasarkan seharga Rp2.500 per botol plastik. Perusahaan tersebut memanfaatkan hasil panen bunga roselle di Pasuruan.

"Kami sudah memasarkan minuman roselle sejak tahun lalu ke beberapa pasar swalayan di Surabaya dan Jakarta," tutur direktur PT JSN, Sapta Surya.

Dia mengklaim produk minuman berwarna merah alami itu berkhasiat sebagai obat penurun tekanan darah tinggi, pereda batuk dan memperlancar buang air besar.

"Minuman ini sebaiknya dikonsumsi dengan es batu atau disimpan dalam kulkas. Kami tidak mencampurkan bahan pengawet dan pewarna," ujar Sapta.

Sebagai produk minuman ringan, sari bunga roselle memang belum populer di masyarakat. Namun, taste-nya yang khas yakni asam manis diharapkan bisa digemari, dimana rasa asam dari malic acid yang terkandung dalam bunga roselle merupakan perpaduan rasa asam buah apel dan strawberry.

Bunga roselle kering dapat diproses menjadi sirup dengan komposisi 40 kuntum berbobot sekitar 15 gram dicuci bersih dan direndam di air satu liter selama sepuluh menit, kemudian direbus selama 30 menit. Air sari bunga berwarna merah disaring dan ditambahkan gula pasir 130 gram, maka jadilah sirup roselle atau perambos.

Plantamor adalah situs pribadi yang didedikasikan sebagai tempat berbagi informasi yang berkaitan dengan pengenalan berbagai jenis tumbuhan mulai dari nama-namanya, tampilannya, keindahannya, tempat tumbuhnya, hingga hubungan kekerabatan mereka antara satu dengan lainnya. Selain itu, Plantamor juga menyediakan berbagai informasi tambahan yang relevan dengan dunia tumbuhan termasuk di antaranya peraturan perundangan, peta online kawasan konservasi, artikel dan peristiwa sejarah terkait tumbuhan, dan sarana virtual untuk melihat tampilan fisik berbagai jenis tumbuhan di lokasi nyata di berbagai sudut dunia.

Nama-nama ilmiah dan taksa yang tersimpan di dalam database Plantamor adalah kumpulan dari berbagai sumber, terutama USDA (US Department of Agriculture). Buku utama yang paling sering kami jadikan acuan adalah Tropica; Color Cyclopedia of Exotic Plants and Trees hasil karya Alferd Byrd Graf. Nama-nama ilmiah dan nama-nama umum dalam bahasa Inggris hampir bisa dipastikan berasal dari kedua sumber utama tersebut. Adapun nama-nama umum dalam berbagai bahasa di Asia Tenggara banyak kami ambil dari buku-buku terbitan PROSEA (Plant Resources of South-East Asia). Tentu saja, kami juga tetap selalu mencari dan menggunakan sumber-sumber pengetahuan lain, termasuk pengetahuan dan pengalaman pribadi, jika dirasa masih diperlukan untuk verifikasi dan tambahan informasi.

Terima kasih anda telah mengunjungi kami. Jika ada saran dan koreksi, silakan anda sampaikan melalui plantamor dot com dengan nama akun muslihudin. Kami akan menerimanya dengan senang hati.



Terima kasih,
Cak Mus